LAIN padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya, begitulah ungkapan lama yang menggambarkan perbedaan adat dan budaya yang berlaku pada wilayah lainnya.
Begitu juga, budaya yang dijalani oleh Suku Kluet yang telah mentradisi sejak ratusan tahun lalu.
Salah satu tradisi itu yakni “Meubobo Alang”. Tradisi ini, bagi Suku Kluet, merupakan kegiatan budaya yang sulit ditinggalkan saat satu keluarga melaksanakan acara sunat rasul atau khitanan terhadap anak yang berjenis jenis kelamin laki-laki.
Saat acara khitanan, diadakan rangkaian budaya mengantarkan anak yang disunat ke rumahnya. Di sini, terlihat keunikan tradisi tersebut, karena anak yang akan disunat-rasul, terlebih dahulu “dipinjam” oleh pihak pamannya beberapa jam lamanya sebelum di antara ke rumah orang tuanya.
Namun, untuk anak perempuan, biarpun dilakukan sunat rasul tidak semeriah sunat rasul anak lelaki.
Sehingga acara budaya “Meubobo Alang” tidak dilakukan untuk anak perempuan.
Tibalah saat pengantaran tersebut yang disertai dengan pihak keluarga besar pamannya atau yang disebut “pemamoan”.
Namun anak perempuan juga dilakukan sunat, hanya saja tidak semeriah sunat rasul anak lelaki. “Meubobo Alang” tidak dilakukan untuk kalangan anak perempuan.




