Pada acara pengantaran “Meubobo Alang” ini, ikut diundang perangkat adat desa setempat, famili dan masyarakat gampong.
Intinya, acara ini dilakukan, semata-mata untuk memeriahkan kenduri/pesta dengan nilai-nilai kekerabatan dan saling tolong menolong disamping dengan tidak langsung melestarikan tradisi yang telah berlaku secara turun temurun.
Sejumlah perlengkapan pun di bawa ketika pengantaran “Meubobo Alang tersebut. Mulai perlengkapan pakaian berupa baju, celana, kain sarung, kain panjang dan lain keperluan untuk anak sunat yang disunat, tergantung kemampuan keluarga paman.
Tetapi kalau kebutuhan pokok (sembako) sayuran-mayur, buah-buahan, tebu, kelapa, ubi kayu, bumbu-bumbu dapur, dan seekor kambing, sepertinya sudah menjadi “wajib” untuk dibawa, terlepas dari paman yang berasal dari keluarga mampu atau tidak mampu.
Selain itu, para pengiring yaitu, perangkat desa, dan masyarakat yang ikut serta, tetap membawa 1 kg gula pasir, satu papan telor ayam per orang, disesuaikan dengan kemampuan.
Acara penyambutan “Meubobo Alang” di rumah orang tua yang disunat-rasulkan, dimeriahkan dengan silat gelombang khas Suku Kluet.
Selanjutnya untuk menyemarakkan acara sunat rasul (pesta), kalangan anak paman (impal- bahasa Kluet), turut memainkan peran anak yang di sunat – rasulkan. Sekali lagi, di sini lah, terlihat keunikan tradisi itu yang kadang kala menghibur dengan aneka kelucuannya.




