“Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari Bapak Menteri dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk pembangunan jalan dan jembatan di wilayah kami.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang].
DI TENGAH hiruk-pikuk Jakarta yang sesak oleh lalu lintas dan deru mesin, seorang tamu dari ujung timur Aceh menenteng map berisi peta, proposal, dan harapan.
Ia bukan pejabat pusat atau politisi partai besar, melainkan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, datang membawa misi sederhana tapi mendasar [memperjuangkan jalan untuk rakyatnya].
Di ruang pertemuan lantai tujuh Kementerian Pekerjaan Umum, Armia duduk berhadapan dengan Menteri PU, Dody Hanggodo. Suasana serius tapi cair.
Di hadapan sang menteri, Armia tak bicara tentang proyek mercusuar atau pembangunan gedung megah.
Ia bicara tentang aspal dan jembatan, tentang akses anak sekolah di pelosok, dan nasib petani yang terganjal jalan rusak.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, Pak Menteri. Ini tentang keterhubungan hidup masyarakat kami, tentang anak-anak yang harus menyeberang sungai tanpa jembatan, dan petani yang hasil panennya tak bisa dijual karena jalan hancur,” kata Armia, seperti dikutip dari pernyataannya, Kamis lalu.
Dari Tenggulun ke Supep: Jalan yang Tak Pernah Usai.





