SALAH satu titik yang ia soroti ialah ruas jalan Tenggulun–Supep, bentangan vital di selatan Aceh Tamiang yang menghubungkan beberapa kecamatan penghasil hasil bumi.
Sudah bertahun-tahun jalan itu menjadi keluhan klasik warga. Lubang-lubang besar menganga di tengah jalan, sementara saat musim hujan, genangan air berubah menjadi kubangan lumpur.
Bagi masyarakat di sana, perjalanan sejauh 20 kilometer bisa memakan waktu lebih dari satu jam, apalagi bagi kendaraan pengangkut hasil perkebunan.
“Kalau musim hujan, kami tidak bisa lewat. Sawit dan karet bisa membusuk di kebun karena mobil tak bisa masuk,” keluh Mujiono, petani dari Kecamatan Tenggulun, kepada media lokal beberapa waktu lalu.
Armia tahu, pembangunan jalan bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah denyut ekonomi dan rasa keadilan yang nyata. “Karena jalan adalah pintu pertama dari pembangunan,” ujarnya.
Dukungan dari Pusat, Sinyal Optimisme.
MENTERI Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyambut baik langkah proaktif sang bupati. Ia menyebut, Aceh Tamiang termasuk wilayah yang strategis dalam jalur penghubung antara Aceh dan Sumatera Utara, namun infrastruktur dasarnya memang perlu diperkuat.
“Kementerian berkomitmen mendukung pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia, termasuk Aceh Tamiang,” ujar Dody dalam pertemuan itu.
Ia memastikan bahwa proposal pembangunan, khususnya ruas Tenggulun–Supep, akan segera dikaji dan diintegrasikan dalam rencana kerja nasional. “Kami akan kirim tim untuk verifikasi lapangan,” tambahnya.





