“Cukup banyak program pembangunan dicetuskan, termasuk menghadirkan lembaga pendidikan, pariwisata dan lainnya, namun upaya tersebut belum berbanding lurus dengan rencana yang dirumuskan oleh para penguasa,” tegasnya.
Malah banyak sarana dan prasarana seperti peninggalan PORA belum terawat dan pemeliharaan dengan baik. Dan event cabang olahraga pun sudah banyak digelar namun kota Jantho masih saja belum beranjak menjadi kota yang bergeliat.
“Apakah ini sisi lemahnya kepemimpinan atau tidak konsistennya dalam menjalankan komitmen untuk menata kota Janto menjadi ibukota?,” Sergah Usman.
Usman mencontohkan, sarana lainnya seperti pendopo yang megah, fasilitas memadai, juga belum maksimal fungsional dengan baik, ini terbukti silih berganti pemimpin bersemangat menempati masih belum konsisten.
“PJ Bupati sekarang harus juga konsisten untuk tinggal di pendopo kota Jantho. Segala macam pertemuan dipusatkan di kota Jantho,” Sebutnya.
Malah perlu dibangun komunikasi dengan pemerintah Aceh dengan bentuk pelatihan dan pendidikan ASN disarankan dibuat di Jantho, dengan demikian Jantho akan berkembang dan bergeliat ekonominya, bukan semakin senyap.
Pemerintah Aceh Besar dan lintas sektor harus punya visi dan komitmen bersama untuk membangun kota Jantho benar-benar menjadi kota ibukota, komitmen tidak hanya pada PJ Bupati saja tapi semua lintas sektor harus berbanding lurus dengan realita.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















