LEBARAN TANPA TENDA DARURAT

[Foto Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].

Tak hanya itu, 1.286 KK juga diusulkan menerima jatah hidup sebesar Rp450 ribu per orang per bulan, disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga.

ANTARA REGULASI DAN HARAPAN

DI RUANG rapat, koordinasi tampak solid. Pemerintah pusat menekankan transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah daerah mendesak percepatan. Namun, di lapangan, waktu berjalan tanpa kompromi.

BACA JUGA...  Ayah Wa Ajukan Usulan Bantuan Stimulan Tahap II Ke Kemensos RI 

Setiap hari yang terlewat berarti satu hari lebih lama bagi warga tinggal di hunian sementara atau bahkan tenda darurat. Setiap tahapan verifikasi berarti jeda sebelum bantuan benar-benar menyentuh dapur dan ruang tidur mereka.

Di tengah segala prosedur, Armia Pahmi menyadari satu hal, keberhasilan bukan sekadar pada jumlah unit terbangun atau dana tersalurkan, melainkan pada kepastian bahwa warga kembali hidup layak dan bermartabat.

BACA JUGA...  Dua Rumah Dinas Yonzikon Jagakarsa Terbakar, 11 Unit Damkar Dikerahkan

PEKERJAAN SESUNGGUHNYA BARU DIMULAI

MENJELANG SENJA, rapat usai. Layar konferensi video dimatikan, dokumen ditutup, dan para pejabat beranjak dari kursi masing-masing. Namun, pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai.

Targetnya jelas [Lebaran tanpa tenda darurat]. Bagi ribuan keluarga di Aceh Tamiang, itu bukan sekadar slogan birokrasi, melainkan harapan paling sederhana [pulang ke rumah, meski rumah itu baru berdiri di atas fondasi yang pernah rata oleh bencana]. [].