DI lereng-lereng hutan Gayo, suara burung hantu bersahutan di antara batang-batang pinus yang terluka. Getahnya menetes perlahan ke tanah, seperti air mata panjang dari alam yang dikhianati.
Bagi masyarakat Gayo, ini bukan sekadar persoalan izin atau ekspor, tapi soal harga diri [tentang siapa sesungguhnya yang berdaulat atas tanah leluhur mereka]. [].




