TAKENGON | MA – Hanya berjarak sekitar dua kilometer dari pusat Kota Takengon, tepatnya di pintu gerbang utara Danau Lut Tawar, sebanyak 44 Kepala Keluarga (KK) korban bencana hidrometeorologi Gayo yang terjadi pada 16 November 2025 hingga kini masih menunggu kepastian realisasi bantuan dari pemerintah.
Para korban yang bermukim di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah itu belum memperoleh kejelasan terkait pembangunan hunian sementara (huntara), pencairan Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun jatah hidup (jadup).
Hingga 15 Februari 2026, atau tiga bulan pascabencana, bantuan yang dijanjikan tersebut belum sepenuhnya mereka terima.
Sebagian warga kini bertahan dengan menyewa rumah secara mandiri menggunakan dana pribadi. Sementara itu, beberapa keluarga sempat mengungsi di Masjid Abrar serta fasilitas umum lainnya pada masa tanggap darurat.
Salah seorang warga terdampak, Jalimin, mengaku hingga kini belum menerima bantuan sebagaimana yang disampaikan pemerintah saat masa darurat.
Ia menyebutkan, warga sempat diberikan dua pilihan, yakni menempati huntara atau menerima DTH sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan.
“Katanya sebelum Ramadan huntara sudah bisa ditempati. Kami diberi dua pilihan, huntara atau DTH Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan. Tapi sampai sekarang belum ada. Jadup Rp15 ribu per jiwa juga belum kami terima. Kami lima jiwa,” ujar Jalimin, Minggu (15/2/2026).




