TAPAKTUAN (MA) – Hati-hati minyak oplosan! Itulah sepenggal kalimat yang sering terucap dari banyak orang yang menggunakan kendaraan bermotor di Tapaktuan-Samadua Aceh Selatan dan sekitarnya.
Pasalnya, sekarang ini, banyak beredar BBM yang diduga bercampur dengan unsur lain.
Salah seorang warga di Samadua L. Rusdi, mengungkapkan, kendaraannya mengalami gangguan mesin dalam beberapa hari terakhir.
Tepatnya, sejak dia menggunakan BBM eceran di pinggir jalan Negara Banda Aceh Medan.
“Banyak juga yang mengaku mengalami hal serupa. Bahkan ada kawan yang bolak-balik ke bengkel,” kata L. Rusdi.
Menurut dugaannya, beredarnya BBM oplosan itu menyusul terjadinya kelangkaan BBM di SPBU, hingga mendorong pengecer menjual BBM yang dicampur dengan unsur kimia lain.
Ironisnya, di tengah kelangkaan BBM di SPBU, pengecer BBM jenis pertalite tumbuh ‘bak jamur di musim hujan’.
Namun, sejauh ini tidak ada penindakan dari aparat terkait. Padahal, munculnya pedagang minyak di pinggir Jalan Nasional itu sebagai sebab akibat.
“Tentu calon pengecer tersebut, terlebih dahulu mendapatkan BBM itu dari SPBU terdekat,” kata beberapa warga lain yang tidak disebutkan namanya.
Sehubungan dengan mobilitas masyarakat dalam menyambut tahun baru 2023 yang sesaat lagi akan tiba, warga diingatkan agar berhati-hati terhadap BBM oplosan.
“Kelancaran perjalanan dan mengantisipasi kerusakan kendaraan hendaknya yang menjadi utama,” kata salah seorang tokoh masyarakat Aceh Selatan.
Selain penjualan BBM di pinggir jalan yang marak akhir-akhir ini, fenomena lain adalah antrian calon pembeli BBM yang berlangsung berjam-jam di SPBU.
Bahkan, sebagian pengguna kendaraan bermotor dari berbagai jenis mengantri minyak jauh sebelum mobil tanki membongkar BBM.
Menurut warga, mereka takut tidak mendapatkan BBM bila tidak mengantri.
“Apa boleh buat, biarlah antri berjam-jam dari pada tidak mendapatkan minyak,” kata seorang warga asal Kluet Utara Mawardi (57).
Perlu Kompensasi
Menurut warga , di tengah krisis BBM ini, mereka meminta perhatian kepada pemerintah, Pertamina maupun pemilik SPBU
Permintaan mereka, yang pertama kepada pemerintah untuk terus menertibkan harga BBM, kedua kepada Pertamina agar tetap menyediakan minyak, ketiga kepada pihak pemilik SPBU diminta agar memberikan kompensasi waktu pengisian.
“Kalau sudah berjam-jam warga antri, SPBU tidak harus membatasi waktu/jadwal pengisian BBM seperti pada pukul 18.00 WIB agar tidak istirahat,” kata warga di Tapaktuan.
Demikian pula untuk pemerintah dan Pertamina agar tetap menyediakan minyak, berapapun nilai harga jualnya.
“Kami masyarakat tidak lagi mempersoalkan kenaikan harga BBM yang penting jangan putus minyak,” kata Saleh Sarbaini di Tapaktuan.(Maslow Kluet).




