BANDA ACEH | MA — Di saat banjir melanda sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh dan melumpuhkan aktivitas belajar-mengajar, distribusi bantuan pendidikan menjadi sorotan publik. Bantuan tenda belajar yang semestinya segera dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah terdampak banjir sebelumnya diduga tidak bergerak optimal, memunculkan pertanyaan serius soal kecepatan dan pola penyalurannya oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh.
Banjir yang merendam ruang kelas serta merusak fasilitas pendidikan memaksa ribuan siswa belajar dalam keterbatasan. Dalam kondisi darurat seperti ini, tenda belajar menjadi kebutuhan mendesak agar hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi. Namun, informasi yang berkembang menyebutkan adanya hambatan dan kejanggalan dalam pendistribusian bantuan tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini dari sumber terpercaya, Sabtu, 24 Januari 2026, tenda belajar bantuan diduga tidak segera disalurkan secara maksimal ke seluruh daerah terdampak banjir. Padahal, Tim Satuan Tugas (Satgas) BPMP Aceh telah dibentuk khusus untuk mempercepat pendistribusian logistik pendidikan pascabencana.
Sumber menyebutkan, pendistribusian memang dilakukan, namun dinilai tidak efisien. Dalam satu kali perjalanan, tim hanya membawa tiga unit tenda belajar untuk tiga kabupaten berbeda. Pola tersebut dinilai memperlambat distribusi, terlebih jumlah pegawai di BPMP Aceh disebut mencukupi untuk pelibatan personel yang lebih luas agar penyaluran dapat dilakukan secara serentak.





