Permintaan itu mencakup; Beras, Telur, Minyak goreng dan Gula.
Kondisi ekonomi masyarakat pascabencana berada di titik rapuh. Banyak ladang rusak, usaha kecil terhenti, dan pendapatan rumah tangga menurun drastis. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena bertepatan dengan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, periode di mana kebutuhan konsumsi justru meningkat.
Tanpa intervensi serius, krisis pangan berpotensi berubah menjadi krisis gizi dan sosial.
Investigasi di lapangan menemukan, sebagian warga mulai mengurangi porsi makan, mengganti lauk dengan yang lebih murah, bahkan berutang di warung untuk bertahan hidup.
BANTUAN TUNAI; NAFAS PENDEK UNTUK BERTAHAN HIDUP
SELAIN pangan, Pemkab Aceh Tamiang juga memohon Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp1 juta per tahun untuk 111.520 kepala keluarga.
Meski nilainya terbilang kecil, bantuan ini dipandang krusial sebagai “nafkah darurat” bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian. BLT diharapkan menjadi bantalan sosial agar warga tidak jatuh lebih dalam ke jurang kemiskinan ekstrem.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa bantuan tunai harus dibarengi dengan pemulihan ekonomi jangka menengah—bukan sekadar solusi sesaat.
MENGUJI KEHADIRAN NEGARA




