Angka ini menempatkan Aceh Tamiang dalam salah satu krisis perumahan terburuk di kawasan timur Sumatra pascabencana.
Sebagian warga kini tinggal di tenda, rumah kerabat, atau bangunan darurat dari papan dan terpal. Di malam hari, anak-anak tidur berdesakan, sementara orang tua berjaga, khawatir hujan atau penyakit datang bersamaan.
Pemerintah daerah telah menerima 600 unit rumah sementara dari Danantara. Tambahan bantuan rumah juga dijanjikan. Namun, jika dibandingkan dengan kebutuhan riil, bantuan tersebut baru menyentuh permukaan masalah.
Rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah rasa aman, ruang tumbuh anak-anak, dan fondasi kehidupan sosial.
“Kami melaporkan kondisi ini apa adanya kepada Presiden. Air bersih rusak parah, rumah rakyat hilang, dan ekonomi masyarakat sangat terpukul. Kami mohon negara hadir lebih kuat, karena beban ini terlalu berat jika ditanggung daerah sendiri.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang].
PANGAN DAN PERUT RAKYAT; ANCAMAN SUNYI MENJELANG RAMADHAN
LAPORAN Bupati Armia Pahmi menjadi semakin mendesak ketika memasuki persoalan pangan.
Sebanyak 313.255 jiwa di Aceh Tamiang dilaporkan membutuhkan bantuan pangan selama enam bulan ke depan.




