“Kami melaporkan kondisi ini apa adanya kepada Presiden. Air bersih rusak parah, rumah rakyat hilang, dan ekonomi masyarakat sangat terpukul. Kami mohon negara hadir lebih kuat, karena beban ini terlalu berat jika ditanggung daerah sendiri.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang].
AIR BERSIH tak lagi mengalir seperti dulu. Di banyak rumah warga Aceh Tamiang, keran hanya menjadi saksi bisu dari krisis yang belum berakhir.
Di dapur-dapur sederhana, ibu-ibu menghitung sisa beras, menakar minyak goreng setetes demi setetes, sembari berharap negara benar-benar hadir sebelum Ramadhan tiba.
Di tengah situasi itu, sebuah laporan resmi disampaikan langsung oleh Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Laporan tersebut bukan sekadar deretan angka; melainkan potret utuh tentang air yang hilang, rumah yang runtuh, dan perut rakyat yang menunggu uluran tangan negara.
AIR BERSIH; INFRASTRUKTUR YANG LUMPUH, KEHIDUPAN YANG TERTAHAN
SALAH satu titik paling krusial dalam laporan Bupati Armia Pahmi adalah kondisi air bersih. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Aceh Tamiang mengalami kerusakan fatal pascabencana. Instalasi utama lumpuh, jaringan distribusi terputus, dan sebagian besar wilayah kabupaten kehilangan akses air layak.



