Di Balik Tema “Bersatu untuk Bangkit”, Aceh Tengah Butuh Kerja Nyata Pascabencana

Ilustrasi

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka membantu membersihkan puing-puing, membangun kembali fasilitas, dan menguatkan moril masyarakat. Inilah wajah ‘bersatu’ yang sesungguhnya—sunyi, konsisten, dan membumi,” ujar seorang relawan dari Jagong Jeget.

Mahbub Fauzie, relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli, menegaskan bahwa pemerintah memang tidak bisa bekerja sendiri. “Namun pemerintah harus menjadi dirigen yang menyatukan orkestrasi ini. Hadir lebih awal dari masyarakat berarti tanggap sebelum diminta, bergerak sebelum didesak, dan menyapa sebelum dikritik,” tegasnya.

BACA JUGA...  Layani Wisatawan Muspida Kota Sabang Tinjau Pos Keamanan Tahun Baru

Kebangkitan Aceh Tengah tidak akan lahir dari pencitraan dan konten semata, melainkan dari kejujuran melihat realitas. Bukan sekadar dari panggung seremoni, tetapi dari lumpur sawah yang kembali ditanami. Bukan dari tepuk tangan, tetapi dari doa ibu-ibu yang merasa diperhatikan.

HUT ke-449 ini diharapkan menjadi titik refleksi bersama. Bersatu bukan berarti seragam dalam pandangan, tetapi sejalan dalam tujuan. Bangkit bukan berarti melupakan luka, melainkan mengubahnya menjadi energi perubahan.

BACA JUGA...  Bank Aceh Raih Sertifikasi SNI ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan

Aceh Tengah telah ditempa sejarah panjang. Kini ia sedang ditempa oleh ujian alam. Jika momentum ini benar-benar dijadikan gerakan kolektif untuk memberdayakan kampung, memulihkan trauma, menguatkan pertanian, menghidupkan ruhiyah, serta meneguhkan pelayanan, maka “Bersatu untuk Bangkit” tidak lagi sekadar tema, melainkan jalan bersama menuju kemandirian dan keberkahan.(AR)