Namun program yang lahir dari kritik publik harus benar-benar menyentuh akar persoalan, terutama di desa-desa yang terdampak parah. Yang dibutuhkan masyarakat hari ini bukan sekadar hiburan pascabencana, tetapi pemulihan menyeluruh—fisik, sosial, ekonomi, dan ruhiyah.
Rumah yang rusak harus diperbaiki. Sarana-prasarana umum harus dipulihkan. Namun yang tak kalah penting adalah pemulihan trauma. Anak-anak yang menyaksikan banjir bandang, ibu-ibu yang kehilangan kebun, serta petani yang sawahnya tertimbun lumpur membutuhkan pendampingan psikososial yang terstruktur, bukan sekadar kegiatan insidental.
Di titik inilah pemerintah kampung perlu diberdayakan kembali. Banyak aparatur desa di wilayah terdampak juga menjadi korban. Pemerintahan kampung jangan sampai lumpuh. Justru dari kampunglah kebangkitan dimulai—dengan pendekatan berbasis kearifan lokal.
Musyawarah, gotong royong, peran reje, imem kampung, dan tokoh adat harus kembali dihidupkan. Jangan sampai pemulihan hanya berpusat di kota, sementara kampung berjalan sendiri dengan daya seadanya.
Seremoni HUT sudah tepat jika diarahkan pada substansi. Biarlah kemeriahan ditunda, tetapi program nyata dipercepat. Anggaran dan energi perlu difokuskan pada penguatan ketahanan warga. Jangan sampai tema “Bersatu untuk Bangkit” berhenti pada spanduk dan baliho.




