“Selama ini barang seperti alpukat dibawa menggunakan mobil boks sehingga dari Bener Meriah 4 hari paling cepat baru sampai, dan kondisi seperti itu tentu sangat mempengaruhi kualitas barang kita,” paparnya.
Sabardi juga berharap pemerintah membuka peluang pasar di pulau Jawa dengan menjalan kerjasama dengan pemerintah di sana, agar barang yang dikirim kesana ada penampungnya.
“Sehingga para pedagang tidak perlu lagi mencari distributor di sana di pulau Jawa, atau daerah lain,” ujarnya.
Ketua APSBM ini juga menjelaskan, terkait masalah harga terkadang tidak cukup jauh perbedaan antara pasar lokal dengan di sana disaat kondisi normal, namun dimasa-masa panen melimpah sering kali harga pasar lokal anjlok membuat petani merugi.
“Dengan adanya pesat kargo yang mengakut komoditi asal Gayo, tat kala masa panen melimpah bisa diekspor ke luar menggunakan pesat kargo, tentunya dengan bantuan biaya ongkos kirim dari pemerintah. Banyak komoditi Gayo yang bisa dipasarkan ke pulau Jawa seperti cabai, alpukat, tomat, dan yang lainnya,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bener Meriah, Khairun Aksa, mengungkapkan harga jual komoditi di Jakarta dengan pasar lokal tidak jauh berbeda.




