Di tengah berbagai tantangan zaman, Brigjen TNI Ali Imran tetap berdiri teguh dengan satu keyakinan sederhana namun kuat [TNI lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan akan selalu bersama rakyat].
PAGI ITU, kabut tipis masih menggantung di perbukitan Aceh ketika beberapa prajurit TNI terlihat menyeberangi sebuah jembatan gantung sederhana yang baru saja selesai dibangun.
Di bawahnya, aliran sungai pegunungan mengalir deras. Jembatan itu bukan proyek besar bernilai miliaran rupiah, tetapi bagi masyarakat desa di pelosok, jembatan tersebut adalah urat nadi kehidupan.
Di tengah aktivitas itu, seorang perwira tinggi berdiri memperhatikan pekerjaan para prajurit dan warga yang bergotong royong. Seragam lorengnya tampak sama seperti prajurit lainnya, tanpa jarak, tanpa formalitas berlebihan.
Ia sesekali menyapa warga, bercanda dengan para pemuda desa, bahkan ikut membantu memastikan pekerjaan berjalan baik.
Dialah Brigjen TNI Ali Imran [seorang pemimpin militer yang dikenal bukan hanya karena kepemimpinannya di lingkungan TNI, tetapi juga karena kedekatannya dengan masyarakat].
Bagi Ali Imran, menjadi prajurit bukan sekadar profesi. Ia memaknainya sebagai jalan pengabdian.
“Menjadi prajurit TNI bukan hanya soal kemampuan tempur di medan perang, tetapi juga tentang mengabdi dan membangun bersama rakyat,” begitu prinsip yang sering ia sampaikan kepada anak buahnya. Prinsip itu bukan sekadar kata-kata. Ia menjadikannya sebagai cara hidup.
Pemimpin yang Hadir di Tengah Rakyat




