‘Belajar Jadi Datok’; Cerita ‘Marut’ dari Sumber Makmur

‘Belajar Jadi Datok’; Cerita ‘Marut’ dari Sumber Makmur.

KASUS Sumber Makmur sebenarnya bukan hal baru. Di banyak desa lain di Aceh Tamiang, fenomena “Datok belajar” juga terjadi.

Setelah pemilihan kepala desa, banyak pemimpin baru yang berasal dari latar belakang nonbirokrat. Sebagian petani, sebagian pedagang, sebagian lagi hanya berbekal niat tanpa memahami tata kelola anggaran.

Ini soal kapasitas,” ujar seorang akademisi di Banda Aceh, Dr. Usman Lamreung, M.Si, ketika diminta tanggapan atas fenomena serupa.

BACA JUGA...  31 CPNS Aceh Utara Mulai Ikuti Pelatihan Dasar

“Banyak kepala desa yang terpilih karena populer di masyarakat, tapi tidak memiliki kemampuan manajerial dan administratif yang memadai.”

Usman menilai, pemerintah daerah semestinya menyiapkan pelatihan sistematis bagi para kepala desa baru.

Bukan sekadar sosialisasi formal, tapi pelatihan praktis tentang penyusunan APBK, pengawasan dana desa, dan manajemen partisipatif. “Kalau tidak, yang rugi bukan hanya desa, tapi warga,” tegasnya.

BACA JUGA...  Bupati Aceh Utara: Proyek Krueng Pase Harus Rampung Bulan Desember

Wajah Desa yang Belum Tuntas.

KINI, dua tahun sudah Salihin memimpin Sumber Makmur. Sebagian warga masih menaruh harapan padanya. Mereka yakin niat baiknya tulus, meski langkahnya tertatih. Namun sebagian lain mulai kehilangan kesabaran.

Kami bukan tidak percaya, tapi kalau selalu alasan belajar, kapan majunya?” Ucap seorang tokoh dusun Rengas yang meminta namanya disamarkan.