Salihin menyebut kemungkinan [mungkin] honor penggali kubur akan dimasukkan dalam anggaran perubahan (APBK-P) tahun ini, atau mungkin tahun depan. Kata “mungkin” itu menjadi simbol antara harapan dan ketidakpastian.
Di Antara Anggaran dan Nurani.
BAGI para petugas penggali kubur, menunggu adalah bagian dari hidup. Mereka menunggu panggilan duka, menunggu jenazah datang, menunggu liang lahat siap. Kini mereka juga menunggu kepedulian dari pemerintah desa yang selama ini mereka layani tanpa pamrih.
Di antara tumpukan kertas anggaran, sering kali pekerjaan mereka terhapus dari daftar prioritas. Tidak karena dianggap tak penting, tapi karena tidak ada yang memperjuangkannya dalam rapat Musrenbangdes.
“Kalau di Musrenbangdes itu, biasanya yang muncul program fisik,” Kata seorang pendamping desa di Tenggulun. “Paving block, drainase, jalan. Tapi yang kecil-kecil, seperti honor penggali kubur, suka hilang di tengah jalan.”
Padahal, nilai sosial pekerjaan mereka jauh lebih besar daripada nominal di buku anggaran. Mereka hadir di titik paling sunyi kehidupan manusia [kematian] dan memastikan setiap warga mendapat hak terakhirnya: tempat peristirahatan yang layak.
Ketika Desa Butuh Bimbingan.




