Namun, pendamping hanya bisa menuntun; keputusan tetap di tangan Datok.
Salihin, dalam berbagai kesempatan, mengakui bahwa ia masih butuh waktu untuk memahami mekanisme pemerintahan. Ia menyebut dirinya “Datok yang belajar”.
Lalu sampai kapan Salihin harus belajar jadi pemimpin?, sementara Desa butuh orang yang faham membaca buku anggaran dan cara memimpin, pola-pola ini sangat aneh dan kaku yang dilakukan Salihin.
Idealnya, seorang Datok harus mengerti memahami anggaran dan problem kampung. Sejatinya yang harus belajar adalah menyesuaikan keadaan dan kondisi, “bukan nol sama sekali,”.
Jika demikian keadaan dan kondisi Salihin, masyarakat harus meninjau ulang keberadaannya sebagai Datok yang benar dan tepat.
Bupati juga harus tau, kalau ada Datok yang masih ‘majal’ pengetahuan tentang cara memimpin dan membaca anggaran. Kondisi itu Bupati harus memanggil Salihin.
Penggali Kubur yang Terlupakan.
NAMUN di saat sang Datok belajar, ada kelompok kecil di Sumber Makmur yang merasa semakin terpinggirkan; para penggali kubur.
Mereka bukan pejabat, bukan tokoh adat, bahkan tak tercatat dalam daftar penerima honor desa.
Namun di setiap kematian warga, mereka hadir paling awal dan pulang paling akhir.




