DI pelataran markas, berbagai peralatan pemadam ditata rapi. Ada selang besar tergulung, baju tahan panas, nozzle, helm, hingga APAR. Para petugas memulai sesi pengenalan dengan cara yang sederhana dan komunikatif—bahasa yang dipahami oleh anak-anak.
Ada yang bersorak ketika melihat petugas mengenakan baju anti panas yang tampak seperti kostum super hero. Ada pula yang memegang selang besar sambil tertawa karena beratnya melebihi dugaan mereka.
Di salah satu sudut, seorang anak yang awalnya takut mendekat pada APAR akhirnya berani memegangnya setelah didampingi guru. Ketika petugas mendemonstrasikan cara kerja APAR, anak-anak refleks menjauh, lalu kembali maju dengan wajah antara takut dan penasaran.
Lingkungan damkar yang identik dengan kedaruratan hari itu berubah menjadi kelas terbuka penuh keceriaan.
Saat Mereka Menjadi Tim Damkar Kecil.
BAGIAN paling ditunggu pun tiba. Dalam kelompok-kelompok kecil, murid TK diberi kesempatan memadamkan api langsung dari tumpukan ban yang telah disiapkan.
Begitu selang menyemburkan air, sorakan spontan terdengar. Sebagian memegang erat selang dengan kedua tangan, sebagian lagi terpaksa dibantu petugas karena semburannya begitu kuat. Namun ekspresi mereka sama: bangga.




