PRESTASI ini, kata Maulana, adalah bukti bahwa mahasiswa daerah mampu menghadirkan gagasan yang berdampak nyata. Mereka berharap konsep U-Access yang diusung dapat diimplementasikan secara riil untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal.
“UMKM di Aceh Tamiang punya potensi besar. Dengan pengelolaan dana sosial produktif dan dukungan teknologi, kami yakin bisa memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Di balik penghargaan nasional itu, ada semangat kolektif yang tumbuh dari tanah Aceh Tamiang; semangat yang berpadu antara ilmu, budaya, dan harapan.
Dan di ruang kerja Bupati Armia Pahmi, harapan itu mendapat tempat. “Saya ingin generasi muda Aceh Tamiang tidak hanya dikenal karena sejarah masa lalu, tapi juga karena karya dan inovasi masa depan,” tutupnya.
Prestasi yang diraih Maulana Habib dan Aiyas Rizki bukan sekadar deretan gelar juara yang terpampang di atas kertas.
Di balik itu, ada kerja senyap anak muda daerah yang percaya bahwa gagasan bisa lahir dari mana saja, dari ruang kecil kampus, dari pengalaman sosial di lapangan, atau dari keinginan sederhana untuk melihat UMKM di desanya maju.
“Jangan takut bermimpi besar, karena dari mimpi yang lahir dari tanah sendiri, kita bisa menanam perubahan bagi banyak orang.”
[Aiyas Rizki. Mahasiswa FEB Universitas Syiah Kuala].
Aceh Tamiang hari ini boleh berbangga. Sebab, di antara derasnya arus globalisasi dan kompetisi digital, masih ada generasi muda yang memilih berjalan di jalur kebajikan: menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai budaya.




