Sebagai perwira tinggi yang berasal dari Korps Baret Merah Kopassus, Ali Imran memahami betul standar yang harus dicapai seorang prajurit.
Ia menegaskan bahwa tantangan pembinaan saat ini tidak lagi sederhana. Selain tuntutan profesionalisme, prajurit juga dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Dalam beberapa tahun terakhir, minat generasi muda Aceh untuk bergabung dengan TNI terbilang tinggi.
Fenomena ini, menurut Ali Imran, harus diimbangi dengan sistem pembinaan yang terukur dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa Rindam tidak hanya mencetak prajurit yang kuat secara fisik, tetapi juga memiliki daya tahan mental serta integritas.
Dalam pandangannya, kualitas prajurit tidak bisa dilepaskan dari pembentukan karakter sejak dini.
“Pembinaan itu menyeluruh. Tidak cukup hanya kuat fisik, tetapi juga harus disiplin, loyal, dan memiliki semangat kebangsaan,” ujarnya.
Sebagai putra asli Aceh, Ali Imran membawa perspektif lokal dalam kepemimpinannya. Ia mengaku bangga melihat banyak pemuda Aceh yang kini mengabdi di TNI, bahkan hingga ke level strategis di tingkat nasional.
Fenomena tersebut, menurut dia, menjadi modal sosial yang penting bagi daerah. Di satu sisi, hal itu menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri generasi muda Aceh.




