Ia adalah awal dari pekerjaan panjang.
Dari air, sawah bisa diolah.
Dari sawah, padi ditanam.
Dari padi, panen diharapkan.
Dan dari panen, kehidupan keluarga dipertahankan.
Di belakang aliran tersebut terdapat sebuah proyek dengan nilai kontrak sekitar Rp80,56 miliar, berdasarkan Kontrak Nomor PB 0201-Bws1.6.1/1064, bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025, dengan masa pelaksanaan 110 hari kalender, sejak 25 Juni hingga 12 Oktober 2025.
PT Hutama Karya (Persero) menjadi kontraktor utama, sementara pekerjaan di Gampong Ujong Tunong dilaksanakan PT Sejahtera Durung Mandiri sebagai subkontraktor.
Namun angka-angka itu pada akhirnya menemukan maknanya di tempat yang jauh lebih sederhana: di petak-petak sawah.
451 hektare D.I. Julok Cut bukan hanya angka luas areal.
Di sana ada petani yang menunggu air, keluarga yang menunggu panen, pekerja yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas pertanian, serta ekonomi desa yang bergerak mengikuti musim.
Saipudin melihatnya dari dekat.
Menurutnya, air kini lebih mudah mengalir ke persawahan dan hasil pertanian padi meningkat.
Bagi masyarakat, mungkin itulah bentuk pembangunan yang paling mudah dipahami.
Bukan sekadar saluran yang selesai.
Bukan sekadar proyek yang ditutup.




