Namun di tengah situasi itu, tampak pula keteguhan. Beberapa prajurit dengan senter di tangan membantu tetangganya yang sudah kelelahan.
Yang muda menopang yang tua, yang kuat mengangkat barang milik yang lain. Malam itu mengajarkan bahwa bencana bukan hanya tentang air yang meninggi, tetapi tentang solidaritas yang ikut tumbuh.
Danrem sendiri terlihat terdiam sejenak, memandang wajah-wajah lelah namun tegar di hadapannya.
“Sehebat apapun kamu,” katanya kepada mereka, “utamakan dulu keluarga. Kalau keluargamu selamat, kamu bisa menjalankan tugas tanpa beban.”
Kepedulian yang Menyentuh Hingga Dasar Hati.
KETIKA malam semakin larut, Danrem pamit. Namun langkahnya tetap pelan. Setiap prajurit yang ia temui, ia ajak bicara sejenak. Setiap anak yang ia lihat tidur gelisah, ia tatap dengan doa dalam hati.
Bagi para prajurit, kehadiran itu bukan hal kecil. Bahkan mungkin akan diingat lebih lama dari banjir itu sendiri. Mereka merasa dilihat, dipedulikan, dan dianggap sebagai keluarga.
Ketika mobil dinas meninggalkan halaman asrama yang masih tergenang, lampu belakangnya memantul di permukaan air. Namun bagi banyak orang malam itu, yang lebih membekas bukan pancaran lampu, melainkan pancaran empati dari seorang pemimpin yang memilih berjibaku bersama mereka.




