DI rumah berikutnya, situasinya tak jauh berbeda. Seorang ibu muda duduk memeluk anaknya yang sudah tertidur. Mereka berusaha menghindari lantai yang mulai dingin. Suaminya [seorang Babinsa] mengangkat galon, dokumen keluarga, dan beberapa barang elektronik ke atas meja.
“Kami takut korsleting, Komandan. Lampu terpaksa dipadamkan dari sore,” ujar sang Babinsa.
Danrem menghela napas panjang. “Ini tidak boleh berlarut,” katanya tegas.
Malam itu juga, ia memerintahkan jajarannya mengevakuasi anak-anak dan keluarga prajurit ke mess satuan. Langkah yang langsung disambut rasa lega dari para istri prajurit.
“Alhamdulillah… anak-anak bisa tidur tenang,” ucap salah satu ibu sembari menyeka mata.
Langkah cepat itu bukan sekadar solusi darurat, tetapi bentuk kehadiran seorang pemimpin pada waktu tersulit. Dalam kondisi yang membuat banyak orang panik, ia justru hadir membawa ketenangan.
Banjir yang Menguji, Solidaritas yang Menguatkan.
SETELAH meninjau beberapa rumah, Danrem berdiri sejenak di tengah halaman asrama yang kini berubah menjadi kolam besar. Ia melihat ke arah parit-parit kecil yang tersumbat. Sampah, sedimen, dan aliran air yang buruk menyebabkan genangan tak mengalir ke mana-mana.
“Dari dulu daerah ini rentan,” ucapnya. “Selokan tidak memadai, hujan sedikit saja sudah banjir. Apalagi kalau hujan berhari-hari seperti sekarang.”
Hujan masih turun deras, menyisakan suara gemuruh yang menimpa atap rumah dinas. Sesekali suara itu terdengar seperti tamparan keras terhadap kota yang belum sepenuhnya siap menghadapi ekstremnya cuaca.




