Air Menggenang, Kepedulian Mengalir; Jejak Malam Danrem Lilawangsa di Asrama Terendam

Air Menggenang, Kepedulian Mengalir; Jejak Malam Danrem Lilawangsa di Asrama Terendam.

Tanpa pikir panjang, Danrem langsung turun dari mobil, sepatu botnya tercebur ke dalam genangan. Suara cipratan air menandai awal mula perjalanannya memeriksa rumah prajurit satu per satu.

“Pak, air makin naik,” bisik seorang prajurit yang berjaga.

Danrem menatap sepanjang blok perumahan. Di kejauhan terdengar tangis anak kecil [tipis namun jelas. Suara itu menghentak perasaannya].

BACA JUGA...  Fadlon Tegaskan DPRK Siap Kawal Sekolah Ramah Anak di Aceh Tamiang

Di rumah pertama yang ia kunjungi, seorang prajurit dan istrinya tengah sibuk menyelamatkan pakaian ke tempat yang lebih tinggi. Anak-anak mereka terlelap seadanya di atas kursi yang ditumpuk kain. Mata sang Danrem tampak berkaca-kaca.

Ia menoleh ke perwira pendampingnya. “Beginilah keadaan keluarga mereka,” ucapnya pelan, seperti menahan haru. “Mereka tidak tidur semalaman.”

BACA JUGA...  LembAHtari; Stop Pembabatan, Pembukaan Jalan dan Alih Pungsi Hutan di TNGL

Prajurit itu tersenyum pahit sambil mengusap rambut anaknya. “Airnya terus masuk, Komandan. Tidak berani tidur.”

Danrem mengangguk lemah. Ia masuk, menyentuh bahu sang prajurit; sentuhan ringan yang terasa lebih kuat dari seribu perintah. Ia memperhatikan sudut-sudut rumah yang perlahan mulai dikuasai air. Lantai basah, kasur diganjal balok, dan aroma pengap mulai memenuhi ruangan.

BACA JUGA...  Usai Salurkan Bantuan Sandang dan Pangan, Akmal Daud Serahkan Ratusan Alquran dan Bersihkan Fasilitas Umum

“Saya sedih melihat kondisi prajurit saya. Bagaimana mereka bisa membantu warga kalau rumah mereka sendiri terendam banjir? Ini PR bagi saya.”

[Kolonel Inf Ali Imran, Danrem 011/Lilawangsa].

Rumah yang Terendam, Hati yang Terguncang.