Menurut Abu Salam, Bustami yang saat itu menjabat sebagai Sekda Aceh, mengadu domba PJ Gubernur sebelumnya dengan DPRA untuk mendongkrak posisinya.
Ketika berhasil menduduki kursi yang diincarnya, Bustami dianggap menusuk orang-orang yang telah mendukungnya, termasuk Mualem.
“Dulu, Mualem berharap banyak kepada Bustami agar pembangunan Aceh terwujud sesuai cita-cita damai. Tapi apa yang dilakukan Bustami? Semua janji tinggal omong kosong. Dia memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan pribadi—menguasai tambang, lahan, dan sekarang menjadikan Pilkada Aceh sebagai momen untuk semakin mengeruk keuntungan,” tutur Abu Salam dengan nada penuh emosi.
Abu Salam mempertanyakan: “Apa salah Mualem? Bukankah dia yang berdiri paling depan untuk menyelamatkan Aceh dari jurang perang saudara? Apakah balasan atas pengorbanan itu adalah pengkhianatan dan fitnah?”
Narasi yang Menghancurkan Demokrasi.
Kritik tajam juga dilayangkan Abu Salam kepada tim sukses Bustami dan Fadhil Rahmi yang disebutnya membangun narasi provokatif dan merendahkan lawan politik.
Menurutnya, setelah debat ketiga calon gubernur dan wakil gubernur Aceh yang dihentikan oleh KIP Aceh pada Rabu lalu, tim Bustami melancarkan serangan yang tak pantas kepada Muzakir Manaf dan Fadhlullah Dek Fadh.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya














