JAKARTA | MA – Ambisi Pemerintah Indonesia untuk menggenjot Program Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) diprediksi akan menemui jalan buntu dan berakhir pada kegagalan sistemik. Hal itu dikatakan wakil ketua umum Pimnas Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, dalam keterangan tertulisnya pada media Jum’at (27/3).
Bukan sekadar persoalan teknis di lapangan, katanya, proyek ini dinilai cacat sejak dalam nalar perencanaan karena memaksakan teknologi Waste-to-Energy (WtE) yang bertabrakan langsung dengan hukum termodinamika serta realitas ekonomi daerah di Indonesia. “Jika terus dipaksakan, alih-alih menyelesaikan krisis sampah, proyek ini justru berpotensi menjadi “lubang hitam” bagi APBD dan investasi negara,” ujarnya.
Denny Charter, menegaskan bahwa salah satu hambatan terbesar yang diabaikan adalah profil sampah domestik Indonesia yang didominasi sampah organik dengan tingkat kelembapan mencapai 50% hingga 60%.
“Membakar sampah basah itu secara termodinamika justru menyedot energi, bukan menghasilkan energi. Nilai kalor sampah kita hanya berkisar 1.000−1.500 kcal/kg, padahal standar teknologi insinerator membutuhkan minimal 2.000 kcal/kg agar turbin bisa berputar efisien. Kita seperti mencoba menyalakan api dari kayu yang direndam air,” ujar Denny.




