[Presiden Prabowo Subianto]; “Irjen Polisi hebat, bintang dua. Mau jadi bupati. Hebat sekali. You hebat! Terima kasih You mau mengabdi kepada rakyat. Mudah-mudahan Aceh Tamiang cepat pulih, cepat kembali normal.”
LUMPUR masih menempel di dinding rumah warga Kampung Sukajadi, Kecamatan Karang Baru. Aroma kayu basah dan sisa genangan belum sepenuhnya hilang, meski air banjir bandang yang pernah mengamuk berhari-hari itu kini telah surut.
Di tanah yang baru saja melewati babak paling getir dalam sejarah ekologinya, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berdiri di sebuah posko pengungsian, Jumat, 12 Desember 2025 lalu.
Kunjungan itu berlangsung tanpa gemerlap berlebihan. Tak ada karpet merah di atas lumpur, tak ada panggung tinggi yang memisahkan pemimpin negara dengan rakyatnya.
Yang ada hanyalah tenda-tenda darurat, anak-anak yang masih memeluk trauma, ibu-ibu yang mencoba tersenyum, dan para lansia yang duduk diam menunggu kepastian.
Di hadapan merekalah Presiden menyampaikan sesuatu yang melampaui pidato kenegaraan; sebuah pengakuan tulus terhadap seorang kepala daerah yang memilih tetap berada di tengah rakyatnya sejak bencana itu pertama kali datang.
Nama itu disebut dengan lantang; Irjen Pol (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH, Bupati Aceh Tamiang.




