“Saya sedih melihat kondisi prajurit saya. Bagaimana mereka bisa membantu warga kalau rumah mereka sendiri terendam banjir? Ini PR bagi saya.”
[Kolonel Inf Ali Imran, Danrem 011/Lilawangsa].
MALAM itu, hujan turun tanpa ampun. Langit seperti ditarik paksa agar terus menumpahkan air. Ketika sebagian masyarakat mulai terbiasa dengan aroma banjir hari ketiga, seorang lelaki berseragam loreng justru meninggalkan kantornya dan memilih menembus pekat malam.
Dialah Kolonel Inf Ali Imran, Komandan Korem 011/Lilawangsa, yang berjalan menuju Asrama TNI Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti—kompleks prajurit yang sejak pagi tak henti-henti digenangi banjir.
Di kota yang sebagian wilayahnya berupa dataran rendah, curah hujan yang tinggi selama sepekan telah mengubah jalan-jalan menjadi sungai kecil. Desa Hagu Teungoh menjadi salah satu titik paling parah.
Ketinggian air mencapai 40 sentimeter, cukup membuat aktivitas warga lumpuh, dan rumah-rumah dinas prajurit di Hagu Selatan ikut menyatu dengan derita itu.
Namun badai selalu menghadirkan dua hal; cobaan dan ketangguhan. Dan malam itu, Danrem memilih hadir sebagai saksi dari keduanya.
Langkah di Tengah Air yang Tak Mau Surut.
SEKITAR pukul sebelas malam, kendaraan dinas Danrem berhenti di depan pintu gerbang asrama. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat ke permukaan air, menciptakan kilau yang membuat malam tampak lebih suram dari biasanya.




