Oleh: Tgk. Muhsin, MA
HARI ini, genap 20 tahun usia perdamaian GAM-RI atau lebih dikenal dengan sebutan MoU Helsinki.
Perjanjian antara Pemerintah RI dengan GAM itu, bukan sekadar peristiwa politik, melainkan sebuah momentum spiritual yang mengubah arah sejarah Aceh.
Dia lahir, setelah puluhan tahun Aceh menjadi medan konflik, darah dan air mata menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah pertikaian.
Lalu, di sebuah ruangan jauh dari tanah rencong, tangan-tangan yang dulu berseberangan akhirnya berjabat, membuka lembaran baru yang ditulis dengan tinta kesepahaman.
Namun, yang jarang disoroti adalah ruh yang membuat perdamaian itu bertahan hingga kini yaitu, keikhlasan.
Tanpa ikhlas, perjanjian hanya tinggal tanda tangan di atas kertas. Keikhlasan itulah yang membuat para pihak mau melepas ego, mau menanggalkan rasa benar sendiri, dan mau menukar amarah dengan harapan.
Keikhlasan dalam perdamaian berarti berani mengakui bahwa masa lalu tak bisa diubah, tetapi masa depan bisa dibangun bersama.
Ia menuntut pengorbanan yang tak terlihat mengubur dendam, menahan diri untuk tidak membalas, dan menerima bahwa kemenangan sejati adalah ketika semua pihak sama-sama merasakan manfaat dari kesepakatan.




