Laporan | Iqbal
Bireuen (MA) – Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke- 44 yang diselenggarakan setiap tanggal 4 Desember itu akan digelar dengan doa bersama dan menyantuni anak yatim, kata Tgk Darwis Jeunieb selaku ketua Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh (KPA/PA) wilayah Batee Iliek, Kamis (3/12).
“Kami dari keluarga besar GAM dalam Kabupaten Bireuen, baik sipil dan eks sayab militer GAM secara bersama yang bergabung dalam wadah organisasi KPA/PA wilayah Batee Iliek Bireuen, akan menggelar kegiatan Doa Bersama disertai Santunan terhadap anak yatim-piatu, pada Jum’at besok 4 Desember 2020 bertempat di kantor KPA/PA Gampong Meunasah Blang, Kota Juang, Bireuen,” ujarnya Tgk Darwis Jeunieb dan didampingi oleh Rusyidi Mukhtar,S.Sos selaku Bendahara KPA/PA.
Tgk Darwis Jeunieb mantan Panglima GAM Wilayah Batee Iliek, saat disinggung mengenai Bendera Bulan Bintang oleh media, Darwis Jeunieb mengatakan masalah Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 mengenai Bendera Bulan Bintang, tentu secara mekanisme hukum sudah disahkan secara bersama oleh Gubernur Aceh dan DPR Aceh beberapa tahun yang lalu, tentu itu merupakan kewenangan dan tanggungjawab Pemerintahan Aceh.
Gubenur Aceh Nova Iriansyah beberapa waktu yang lalu pada sidang paripurna tahun 2018 bersama Komisi I DPR Aceh, saat itu dijabat oleh Azhari Cage, telah berkomitmen untuk menuntaskan persoalan Qanun Bendera Aceh bisa direalisasikan ditengah masyarakat Aceh, ujarnya Darwis.
Apalagi lanjutnya, Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat ini telah dilantik dan menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Aceh difinitif. Tinggal bagaimana komitmennya seorang Gubernur memiliki kewenangan untuk menjalankan tugas negara dengan mengeluarkan legalitas turunan payung hukum pelaksanaan terhadap implementasi Qanun Bendera Aceh, melalui Peraturan Gubernur (Pergub) untuk dilaksanakan sebagaimestinya sebagai perintah Qanun tersebut kepada masyarakat Aceh.
Mantan Panglima GAM Bireuen ini juga menyampaikan, momentum Milad GAM ke-44, merupakan sebagai upaya rasa syukur untuk mengenang atas segala bentuk jasa perjuangan dan pengorbanan para saudara kita bersama rekan rekan seperjuangan GAM.
Pihaknya juga mengenang perjuangan para Syuhada yang meninggal saat konflik bersenjata di Aceh antara GAM TNI/Polri (Pemerintah RI), sebelum Aceh Damai ditandatangani 15 Agustus tahun 2005 MoU Helsinki antara GAM-RI, di Firlandia Benua Eropa, ucapnya Darwis Jeunieb.
Diacara milad yang jatuh pada 4 Desember, dimana keluarga besar GAM akan mengirimkan Doa bersama kepada Deklarator Gerakan Aceh Merdeka, Paduka yang mulia Alm Wali Dr Hasan Tiro dan Alm Panglima GAM Tgk Abdullah Syafie yang telah mendahului kita pergi kehadapan Keridzhaan Allah SWT, sebut Eks GAM Tripoli Libya Darwis Jeunieb.
Kenang Darwis, Wali Hasan Tiro pergi telah meninggalkan kita, beliau telah banyak meninggalkan berbagai kunci sejarah perjuangan Rakyat Aceh dalam membuka mata kita menatap masa depan bangsa Aceh. Apalagi semasa hidupnya beliau dikenal oleh seluruh rakyat Aceh sebagai sosok pejuang dan pelaku sejarah Aceh “Dimata Dunia” merupakan figur pemersatu Bangsa Aceh.
Jasa para syuhada yang berupaya mewujudkan kesejahteraan dalam kehidupan dan memanusiakan manusia di provinsi Aceh, hingga keluarga bahkan nyawa, selain harta benda yang dikorbankan. Semua itu tidak mungkin terbalaskan dalam bentuk dan oleh siapapun, kecuali melalui Doa dan Munajad mengharapkan Fahala keridzaan ilahi, tandasnya Darwis.
Hari ini tambahnya Darwis, masyarakat Aceh, telah menjalani kehidupan yang normal yang penuh dengan kedamaian dalam keseharian secara berdemokrasi dalam lingkaran sistem Konstitusi Republik Indonesia (UUD 1945 dan NKRI). Maka segala bentuk pencapaian perjuangan bangsa Aceh yang di rasakan sekarang ini, tentu tidak terlepas dari pengorbanan keikhlasan para syuhada dan perjuangan Aceh terdahulu telah meninggalkan kita.
“Sejarah Aceh ini tidak boleh terkubur, apalagi hilang ditelan perkembangan zaman dan masa sebagai amanah leluhur untuk dilestarikan kepada generasi bangsa Aceh dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama,”harapnya.
Kita hanya menggelar Doa Bersama dan santunan selain Menziarahi Makam Pejuang GAM, sebagai bentuk sujud syukur dalam mengenang para syuhada atas jasa serta pengorbanan yang telah saudara kita sumbangkan kepada Rakyat Aceh, pungkasnya Darwis Jeunieb.(*).















