TUJUH langkah yang dipaparkan Bupati Armia menunjukkan keseriusan pemerintah daerah. Namun, sejarah bencana di Aceh Tamiang mengajarkan bahwa komitmen sering kali melemah saat anggaran menipis dan sorotan publik meredup.
Kunci keberhasilan bukan hanya pada rencana, tetapi pada keberanian menertibkan akar masalah ekologis dan keterbukaan dalam setiap tahap pelaksanaan.
SETELAH BANJIR, SIAPA BERTAHAN?
BANJIR akan surut. Tenda akan dibongkar. Berita akan berganti. Tetapi bagi warga Aceh Tamiang, hidup harus terus berjalan di tanah yang sama, di sungai yang sama.
Tujuh langkah Bupati Armia kini menjadi janji terbuka yang dicatat publik. Ia akan diuji bukan oleh pidato, melainkan oleh waktu. Dan sejarah daerah ini akan mengingat; apakah banjir kali ini benar-benar menjadi titik balik, atau hanya satu episode lagi dalam siklus panjang lupa dan ulang. [].




