TAPAKTUAN (MA) – Tradisi “jabat tangan” di Gampong Arafah Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan tampaknya semakin melekat bagi warganya.
Betapa tidak, kebiasaan dari tahun ke tahun sejak pemukiman itu masih berstatus komplek Perumnas sekitar tahun 90-an, telah memulai tradisi jabat tangan.
Bahkan, kini semakin kuat dan melekat bagi warganya.
Gampong Arafah yang dimekarkan dari Desa Payo Nan Gadang dan Desa Ujung Tanah itu, setiap kali musim Idul Fitri dan Idul Adha, melakukan kebiasaan dengan berjabat tangan.
Hampir semua warga, baik “kaum” perempuan dan laki-laki, membentuk lingkaran setelah menyalami imam, khatib shalat Idul Fitri maupun Idul Adha, pimpinan desa dan tokoh-tokoh masyarakat, sehingga antar warga dapat saling bersalaman.
Sebagaimana pada pelaksanaan shalat Idul Fitri 1444 H, Sabtu, (22/4). Setelah selesai shalat, warga jemaah Kemesjidan al-Hidayah Gampong Arafah Kecamatan Samadua secara spontan bersalaman satu sama lain dengan membentuk lingkaran panjang.
“Tradisi ini ini tampaknya, sangat efektif untuk bersilaturahmi antar warga seusai pelaksanaan shalat, kalau pun terkadang tidak bisa saling berkunjung ke rumah karena satu dan lain hal, akan tetapi pada umunya warga sudah dapat berjabat tangan tanda saling memaafkan,” kata seorang tokoh masyarakat Gampong Arafah Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan.
Sementara itu, pelaksanaan shalat Idul Fitri 1444 H, berlangsung khidmat dengan menghadirkan Tgk. Mulyadi sebagai khatib dan sekaligus menjadi imam shalat.
Dalam khutbahnya, Tgk. Mulyadi antara lain menekankan, pentingnya menjaga hubungan dengan manusia (hablumminannas), setelah melakukan hubungan dengan Allah SWT (hablumninallah).
“Bahkan dalam beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW, mengingatkan bahwa hubungan dengan manusia adalah sangat penting dan sama nilainya berhubungan dengan Allah SWT,” demikian Tgk. Mulyadi.(Maslow Kluet).




