MoU yang ditandatangani pada tahun 2005 itu dianggap sebagai landasan penting untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Aceh.
“Ini bukan soal kepentingan politik semata, tapi upaya untuk memperpanjang dan memperkuat otonomi khusus Aceh (Otsus), demi kesejahteraan rakyat Aceh yang telah mencintai perjuangan ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Nasruddin Wen Puger dalam paparannya menyoroti bahwa kolaborasi antara Mualem dan Dek Fad adalah simbol kesatuan Aceh yang inklusif.
“Pasangan ini merupakan representasi dari semangat kesetaraan dan keadilan bagi semua suku di Aceh. Mereka berdua membawa visi Aceh yang damai, makmur, dan berdaulat dalam bingkai NKRI,” jelas Nasruddin.
Diskusi malam itu juga dimanfaatkan oleh Calon Bupati Dailami untuk menyampaikan pandangannya mengenai arah pembangunan Bener Meriah ke depan.
Dailami menegaskan pentingnya sinergi antara pemimpin daerah dan provinsi untuk mendorong percepatan pembangunan di segala lini, terutama di sektor pertanian dan UMKM.
“Mari kita dukung sosok-sosok yang memiliki visi besar untuk Aceh dan daerah kita. Mualem dan Dek Fad memiliki kapasitas dan integritas untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Aceh, tanpa terkecuali,” ujar Dailami di hadapan para peserta diskusi yang sebagian besar adalah warga keturunan Jawa.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















