BANNER IKLAN

Sebanyak 163 KK Keracunan Gas Medco Kembali Pulang ke Rumah

  • Bagikan

example banner

 277 total views,  1 views today

example banner

Akibat kelalaian pada kegiatan Flaring PT. Medco EP Malaka, menyebabkan terjadinya pelusi udara secara luas, effectnya; ratusan masyarakat dirawat di RSU Zubir Mahmud dan 163 KK mengungsi.

Laporan | Syawaluddin

IDI (MA) – Sebanyak 163 Kepala Keluarga (KK) Desa Panton Rayeuk T. Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Korban keracunan akibat kebocoran pipa gas PT. Medco EP Malaka, yang bertahan dicamp pengungsian dan dirawat di RSU Zubir Mahmud sudah dibenarkan pulang kerumah mereka masing-masing.

Akibat kelalaian pada kegiatan Flaring PT. Medco EP Malaka, menyebabkan terjadinya pelusi udara secara luas, effectnya; ratusan masyarakat dirawat di RSU Zubir Mahmud dan 163 KK mengungsi.

PT Medco EP Malaka mendampingi pemulangan pengungsi disertai membayar biaya kompensasi Rp2 juta rupiah per kk, dinilai sebagai bentuk tanggung jawab dan patut di apresiasi oleh semua pihak.

“Pun begitu kita beranggapan pemberian kompensasi Rp400 ribu rupiah per KK selama 5 hari dipengungsian oleh perusahaan PT. Medco EP Malaka sebagai solusi dari aspek sosial dan ekonomi penanganan keadaan darurat, tetapi perusahaan dianggap belum memberi solusi dari aspek tekhnis,” Tegas Usman Lamreung, Pemerhati Pemerintahan, Aktifis Sosial dan Civitas Akademisi Universitas Abulyatama pada mediaaceh.co.id, Sabtu, 17 April 2021 di Idi, Aceh Timur.

Menurutnya; pernyataan bahwa kondisi udara di desa tersebut telah kembali normal setelah sebelumnya pihak DLH Aceh Timur dengan didampingi perusahaan melakukan survey di lokasi sumur AS-9, AS-11 dan AS-12 tidak tercium lagi bau menyengat yang diduga dari asap suar dan dari pengukuran kualitas udara di desa tersebut dengan parameter SO2, H2S, dan CH4 terbaca nol,

Juga dianggap belum memadai, disebabkan pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi penyebab terjadi insiden yang menyebabkan ratusan KK mengungsi dan belasan lainnya masuk rumah sakit.

Insiden keracunan warga desa Panton Rayeuk T, mengindikasikan bahwa PT Medco belum menerapkan sistem pencegahan dini (EWS), sehingga efek yang ditimbulkan akibat terhirup gas beracun, berdampak pada warga desa, yang menyebabkan terjadi warga terpaksa mengungsi dan dirawat di rumah sakit umum.

Menurut Usman, insiden yang sama terjadi pada Mei 2019, November 2020, dan pada April 2021, dikuatirkan masih sangat berpotensi akan terjadi lagi pada waktu dan desa lainnya, dengan tingkat resiko tinggi jika gas tersebut kembali menerpa warga, dan selama dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, PT Medco dinilai belum melakukan langkah-langkah preventif.

Untuk itu Usman mendesak PT Medco EP Malaka segera mencarikan solusi dari aspek tehnis, berkomitmen tinggi dan serius dalam menerapkan Early Warning System (EWS) dalam proses mitigasi melalui kegiatan-kegiatan sosialisasi dan edukasi akan bahaya H2S.

Agar warga sekitar tambang lebih peka dan paham bahwa mereka hidup berdampingan dengan bencana dan sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatannya, lalu pemasangan alarm-alarm pendeteksi gas supaya warga memiliki kewaspadaan tinggi, menyiapkan masker-masker oksigen, memperbaiki jalur-jalur evakuasi, dan sebagainya.

Mitigasi melalui sistem pencegahan dini (EWS) menjadi penting diterapkan sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam melindungi manusia yang hidup di sekitaran proyek Blok A, sehingga jatuhnya korban akibat menghirup gas berbahaya dapat diminimalisir. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *