JAKARTA | MA — Perebutan kursi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) periode mendatang mulai memanas. Suara perubahan menguat. Sekretaris Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Pusat, Junaidi Rusli, mengeluarkan pernyataan tajam: “Saatnya yang muda yang tidak terlibat konflik berkarya, yang tua jadi penasihat saja.”
Menurut Junaidi, regenerasi bukan berarti menyingkirkan senior, melainkan bentuk penghormatan. “Mereka pembuka jalan. Tapi zaman sudah berubah. PWI butuh energi baru, ide segar, dan cara pandang modern menghadapi disrupsi media, ada Iqbal Irsyad Sekjen PWI ,Helmy Zainal Ketua Kalsel dan Farianda Putra Sidiq Ketua Sumut yang punya track record bagus,”ujarnya di Jakarta, Selasa (5/8).
Ia menekankan pentingnya sosok baru yang bersih dari konflik masa lalu. “Harus ada figur baru, bukan bagian dari kelompok yang selama ini berseteru. Sosok muda yang masih aktif turun ke lapangan sebagai wartawan,” tegasnya.
Bagi Junaidi, kepemimpinan organisasi profesi tak boleh stagnan. Dunia digital dan tantangan independensi pers menuntut pemimpin yang paham medan baru. “Pers tak bisa dikelola dengan cara lama,” ujarnya lagi.
Junaidi Rusli mengaku, pernyataannya ini mendapat dukungan dari sejumlah kalangan wartawan muda. Mereka menilai PWI terlalu lama dikuasai figur lama yang tak cukup responsif terhadap perubahan media.
Halaman : 1 2 Selanjutnya














