Begitu diungkapkan Usman Lamreung; pemerhati kebijakan pemerintah dan civitas akademisi Abulyatama Aceh pada mediaaceh.co.id. Minggu, 21 April 2024 di Banda Aceh.
Dikatakan bahwa; Pelaksanaan Pilkada 2024 di Aceh sepertinya masih hanya sebatas melahirkan kekuasaan dengan segala nafsu bukan mencari pemimpin dengan visi, misi dan gagasan perubahan.
“Siklus Pilkada sepertinya hanya seremonial saja, termasuk calon kandidat Gubernur, Bupati dan Walikota berputar-putar dengan para elite dan politisi yang sama, krisis kepemimpinan, malah lebih ironis lagi tak ada ruang dan jangan coba-coba bagi yang berkeinginan mencalonkan diri yang tidak punya modal ekonomi termasuk tidak ada koneksi dengan partai politik,” Tegasnya.
Masih Usman; Dibeberkan kalau Modal ekonomi adalah sebuah keniscayaan yang harus disiapkan oleh calon kandidat. Menurutnya jika itu tidak ada jangan harap bisa mencalonkan diri, karena ada syarat yang ditentukan partai politik, termasuk mahar politik. Ini salah satu penyebab para tokoh, akademisi, dan intelektual yang punya gagasan dan visi namun urung maju ketika dihadapkan dengan modal ekonomi.
Ditambah lagi buruknya pelaksanaan pemilu legislatif yang terindikasi politik uang, begitu masif dilakoni. Ibarat ‘dagelan’ Pemilih tidak lagi melihat visi, gagasan dan Sumber Daya Manusia (SDM), tapi yang dipilih berapa amplop yang diterima, biarpun sudah melampaui moralitas termasuk melanggar ketentuan agama.




