“Ini bukan lagi soal teknis, tapi ada aroma politik yang kental. KIP seperti dikunci dan tak bisa bergerak,” ujar seorang sumber yang enggan disebut namanya.
Situasi ini semakin memperlihatkan betapa lemahnya independensi lembaga penyelenggara pemilu di Aceh.
Ketidakmampuan KIP Aceh dalam menjelaskan persoalan ini hanya akan memperbesar dugaan adanya permainan politik di balik layar.
Tiga anggota DPR Aceh terpilih yang seharusnya sudah dilantik kini menjadi korban dari tarik-menarik kepentingan yang belum jelas arahnya.
Pertanyaannya, sampai kapan KIP Aceh akan terus mengulur waktu?
Atau mereka hanya menunggu perintah dari pihak tertentu?
Jawaban ada di tangan KIP, tapi satu hal yang pasti: semakin lama mereka berdiam diri, semakin kuat dugaan bahwa ada skenario politik yang sedang dijalankan.(R)
Halaman : 1 2















