Wacana ini mencuat setelah tragedi kematian prematur YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam pernyataannya, Alip menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk social murder, istilah yang merujuk pada kematian yang dipengaruhi oleh tekanan dan kondisi struktural yang sistemik, bukan semata persoalan individual.
Menanggapi hal itu, Wulan menyatakan bahwa perhatian terhadap tekanan struktural memang perlu ditempatkan secara serius dalam agenda reformasi pendidikan. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental siswa dan guru harus menjadi elemen strategis dalam desain kebijakan sekolah.
“Kesehatan mental bukan isu tambahan. Ia adalah fondasi. Tanpa lingkungan yang sehat secara psikologis, sulit membangun pembelajaran mendalam atau karakter yang kuat,” jelasnya.
Menurut Wulan, konsep Sekolah Berdaya menjadi relevan karena menempatkan sekolah sebagai entitas yang otonom dan kontekstual. Sekolah didorong untuk mengenali kebutuhan warganya sendiri, membangun sistem dukungan psikososial, serta mengembangkan kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi juga transformatif dan relasional.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan manajemen konflik berbasis dialog dan restoratif di lingkungan sekolah. “Sekolah adalah ruang sosial. Konflik tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikelola dengan cara yang memulihkan, bukan menekan,” tambahnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya















