Pak Ismail juga meluruskan narasi yang berkembang mengenai bakal calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H.
Ia menegaskan bahwa penyebutan Sayuti sebagai “orang luar” atau kader eksternal tidak sesuai dengan fakta.
“Perlu saya garis bawahi, Dr. Sayuti Abubakar sudah memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat sejak tahun 2023. Jadi narasi seolah-olah beliau baru tiba-tiba masuk Demokrat menurut saya tidak tepat,” katanya.
Ismail menilai munculnya lebih dari satu kandidat justru menunjukkan bahwa demokrasi di tubuh Partai Demokrat Aceh berjalan sehat. Persaingan, katanya, seharusnya diisi dengan adu gagasan dan kemampuan membesarkan partai, bukan saling membangun opini yang berpotensi memecah kader.
Disebutkannya, bahwa seluruh kader tentu mengharapkan doa dan nasihat para ulama. Namun, menurutnya, dukungan ulama seharusnya menjadi energi moral bagi seluruh kader Partai Demokrat dan masyarakat Aceh, bukan diklaim sebagai legitimasi politik bagi satu figur tertentu.
“Kita semua menghormati ulama. Siapa pun yang nanti memimpin Demokrat Aceh harus tetap meminta nasihat para ulama dan tokoh masyarakat. Tetapi jangan membawa-bawa nama ulama untuk kepentingan politik praktis atau pencitraan pribadi,” ucapnya.




