Beberapa hambatan yang harus diantisipasi; Aspek, Harapan dalam Renja dan Tantangan di Lapangan.
Keuangan Semua program prioritas mendapat dana cukup Keterbatasan anggaran, potensi pemotongan, atau alokasi mendadak SKPD.
Setiap OPD bertanggungjawab penuh atas kinerja Silang fungsi, koordinasi antar OPD yang lemah.
Adaptivitas Renja bisa diubah jika situasi mendesak, Birokrasi yang lamban, aturan kaku lalu Partisipasi masyarakat.
Usulan lokal dijaring dan dijadikan acuan Kapasitas masyarakat terbatas, komunikasi tidak merata Evaluasi dan monitoring Indikator jelas dan diawasi rutin apalagi itu, Data tidak realtime, pelaporan lambat, sistem informasi belum optimal.
Dalam konteks Aceh Besar, dinamika geografis, keberagaman gampong, serta tantangan sosial-ekonomi memberi beban tersendiri.
Apabila Renja terlalu general tanpa memperhatikan karakter lokal, ada risiko program “tidak jatuh ke akar rumput”.
- Narasi di Lapangan, Ketika Angka Menyapa Warga
Bayangkan seorang ibu di gampong Lamtamot, Kecamatan Ingin Jaya, yang ingin agar kanal irigasi di sawahnya diperbaiki.
Usulan itu masuk ke musrembang gampong, diteruskan ke kecamatan, lalu OPD terkait. Tapi ketika dokumen Renja disusun, usulan itu mungkin “tenggelam” oleh proyek prioritas besar di ibu kota kecamatan [meski dampaknya untuk petani kecil sangat terasa].




