Menjahit Kembali Nadi Aceh Tamiang Pascabanjir

Salah satunya melalui pembangunan sistem drainase baru yang dinilai lebih memadai.

Menurut Riski, pembangunan drainase menjadi bagian penting karena banyak ruas jalan sebelumnya cepat rusak akibat buruknya sistem aliran air.

Ketika hujan deras datang, air meluap ke badan jalan dan mempercepat kerusakan struktur aspal.

Masalah serupa terjadi di kawasan pusat kota.

BACA JUGA...  Pertamina EP Raih 23 Penghargaan di Ajang HSSE Award 2020

Di Kota Kualasimpang, pemerintah merancang rekonstruksi jalan perkotaan sekaligus pembenahan drainase agar genangan air yang selama ini kerap muncul dapat dikurangi.

Di Kecamatan Karang Baru, pemerintah juga menata ulang jalan dua jalur dengan menambahkan fasilitas pedestrian bagi pejalan kaki.

Perubahan itu menunjukkan bahwa proyek rekonstruksi kali ini tidak semata bersifat darurat, tetapi juga diarahkan untuk penataan kota yang lebih tertib.

BACA JUGA...  BNPB Operasikan Gerai Masker di Stadion Barnabas Yumeo Jelang Pertandingan Sepak Bola PON XX

Tak berhenti di jalan, pemerintah juga menaruh perhatian pada jembatan-jembatan yang rusak diterjang banjir.

Jembatan Lubuk Sidup dan Jembatan Baleng Karang akan dibangun ulang secara permanen.

Sementara Jembatan Pematang Durian akan direhabilitasi agar kembali berfungsi normal.

Bagi warga pedalaman, keberadaan jembatan bukan sekadar infrastruktur.

Ia menentukan akses anak sekolah menuju ruang kelas, petani menuju pasar, hingga warga menuju fasilitas kesehatan.