Bireuen (MA) – Aisyah (34) warga Gampong Matang Kule, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen tinggal bersama dua anaknya yang masih balita, serta satu anaknya yang masih berusia tujuh tahun untuk mengais rezeki di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di desanya.
Dalam memenuhi kebutuhan harian bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, Aisyah setiap harinya terpaksa mengumpulkan sampah-sampah yang bisa dijualnya ke pedagang pengumpul demi menghidupi anak-anaknya.
Sementara rumah yang ditempati sekarang sungguh sangat memprihatinkan dengan atap rumbia, yang beralaskan tanah, yang waktu hujan turun membuat atap bocor serta dapur yang sudah ambruk ke tanah. Sementara, Ia tidak tahu, jika tahun ini dan tahun sebelumnya Pemkab Bireuen telah membangun rumah kaum dhuafa, namun ternyata rumah Aisyah tidak tersentuh bantuan apapun yang seharusnya layak diterimanya.

Aisyah yang ditinggal pergi suaminya ke Malaysia, setelah terjadi peceraian memilukan, mengaku tidak pernah mendapat batuan dari program pemerintah, baik dari pihak Dinas Sosial menyangkut Program Keluarga Harapan (PKH). Ia juga tidak merima bentuk bantuan dari desanya sendiri, katanya kepada media ini, Sabtu (30/11).
Dirinya juga mengaku, penghasilan dari mengutip sampah, selam seminggu mengumpulkan Rp 50 ribu, sehingga untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya dirasakan tidak mencukupi, apalagi untuk merehap rumahnya yang kondisinya tidak layak huni lagi.
Disebutkan, untuk menempuh area TPA, Aisyah bersama dua anaknya dalam gendongan serta satu anaknya yang dipapah harus menempuh lokasi TPA yang lokasinya sangat jauh dan butuh waktu satu jam lebih dengan berjalan kaki. “Keadaan semakin rumit ketika terjadi perceraian itu, saya mengandung anak ke tiga yang usianya masih satu bulan,” papar Aisyah yang berusaha menghapuskan air matanya yang bercucuran.
Di katakannya, yang semakin menambah kepiluan hatinya, bukan hanya kondisi rumahnya, bahkan untuk makan sehari-hari saja, terpaksa harus makan seadanya. Tak terpikirkan masalah gizi, apalagi untuk anak-anaknya yang sangat membutuhkan asupan gizi yang memadai, untuk bisa makan seadanya saja sudah Ia syukuri.
“Jangankan untuk merehab rumah, makan sehari hari saja, dirinya masih serba kekurangan dengan anak-anak masih kecil, apalagi keadaan saya yang baru lepas bersalin belum sampai dua bulan, untuk pergerakan saya masih terbatas , hanya mengharapkan belas kasihan dari saudara terdekat selain tetangga yang selalu membantu,” sebut Aisyah yang berterima kasih kepada saudara-saudaranya mapun para tetangga yang msih peduli terhadap nasib.
Anehnya, menurut keterangan Aisyah, rumah saya itu sudah cukup banyak yang datang untuk mengambil foto dengan janji akan merehab atau memberikan bantuan baru, Tetapi mereka datang hanya untuk membawa angina surga, sampai anak tertua berusia tujuh tahun, kenyataan rumah saya masih seperti ini dan tidak ada tanda-tanda akan dibangun,” ungkap Aisyah dengan nada kecewa yang berharap Pemkab Bireuen untuk bisa membantu.
Aisyah, salah satu warga dari puluhan warga lainnya yang tidak mampu di Gampong Matang Kule, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen yang belum tersentuh bantuan dari pemerintah daerah setempat.
Aisyah harus tinggal bersama anak-anaknya yang masih kecil, di rumah yang lebih pantas disebut gubuk yang tampak reot, yang hanya tinggal menuggu waktu ambruk ke tanah, seperti dapur rumahnya. Kepedulian Pemkab Bireuen sangat diharapkan, artinya bukan hanya membangun rumah kaum dhuafa atas kepentingan anggota keluarga tim suksesnya, seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya. (Juwaini / Maimun Mirdaz).




