HASIL penelusuran di lapangan menunjukkan satu hal penting; distribusi tenda BNPB Pusat dilakukan dalam kurun 24 jam setelah akses utama bisa dibuka. Artinya, bukan soal lambatnya respons, melainkan hambatan fisik yang membuat mobilitas lumpuh.
Dalam catatan BPBD, setidaknya 876 tenda keluarga disiapkan untuk didorong ke wilayah terdampak. Namun distribusi dilakukan bertahap berdasarkan prioritas;
1. Kampung yang terendam total,
2. Kampung terisolir,
3. Kampung dengan kehilangan rumah terbanyak.
Kampung Lubuk Sidup termasuk dalam kategori kedua; terisolir penuh hampir 72 jam.
Di sana, Datok Penghulu Ibrahim—atau Bram, panggilannya—menjadi garda komunikasi terakhir antara warga dan pemerintah.
[Ibrahim, Datok Penghulu Lubuk Sidup]; “Kami bukan menuntut cepat, tapi kami butuh kepastian. Begitu BPBD bisa masuk, bantuan langsung turun. Itu kerja yang harus kami akui.”
Keterangan lapangan menunjukkan rombongan BPBD harus memaksa menembus lumpur sedalam lutut, menggunakan perahu kecil di ruas-ruas tertentu, dan mengangkut tenda secara manual sepanjang ratusan meter karena jalan tak dapat dilalui kendaraan.
Masalah Struktural di Balik Tenda
INVESTIGASI ini menemukan satu pola konsisten di hampir semua desa; kerusakan infrastruktur memperpanjang derita warga hingga dua kali lipat.




