“Hutan kota bukan hanya ruang terbuka hijau, tapi laboratorium hidup untuk menumbuhkan generasi yang berpikir lestari.”
[Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH].
PAGI ITU, di bawah langit yang bening dan semerbak tanah basah selepas hujan semalam, langkah-langkah kecil para pelajar dan warga Kampung Aras Sembilan menyatu dengan derap kaki para pejabat.
Di hamparan hijau Hutan Kota Aceh Tamiang, batu pertama sebuah cita-cita diletakkan. Tak sekadar simbol pembangunan fisik, tapi sebuah ikrar peradaban [peradaban hijau] yang ingin ditanamkan di tanah lama, [dikenal sebagai gerbang timur Aceh ini].
Di antara riuh tepuk tangan, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, menunduk sejenak. Tangannya yang menggenggam semen basah itu seolah menandai tekad baru; [mengubah paradigma pembangunan dari eksploitatif menuju lestari].
“Saya ingin anak Aceh Tamiang ini maju dan jadi orang hebat,” ujarnya lantang. “Mereka harus belajar mengelola alam dengan cerdas, agar bisa hidup sejahtera tanpa merusak sumber kehidupannya.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di baliknya tersimpan kegelisahan panjang [bagaimana menjembatani jarak antara kemiskinan dan pelestarian, antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab ekologis].
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


![Menanam Peradaban Hijau di Hutan Kota. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].](https://mediaaceh.co.id/wp-content/uploads/2025/10/Compress_20251023_120539_9467.jpg)












