MBG DI TENGAH LUKA BANJIR

CERITA ANAK-ANAK YANG BERTAHAN

BAGI sebagian anak, MBG bukan sekadar makanan. Ia menjadi simbol perhatian dan keberlanjutan hidup di tengah kehilangan.

Salman (9), murid SD Negeri 19 Matang Serdang, mengungkapkan kegembiraannya dengan cara yang polos, tetapi menyentuh.

“Senang, makan MBG enak. Tiap hari ke sekolah makan MBG sama teman-teman. Kadang saya bawa pulang lauknya untuk Ibu dan kakak di rumah. Ayah sudah meninggal… sepuluh hari setelah Ayah meninggal, banjir datang,” katanya pelan.

Cerita Salman menggambarkan realitas yang jarang tertangkap data statistik; bahwa bencana bukan hanya peristiwa alam, tetapi rangkaian kehilangan yang berlapis [kehilangan orang tua, rumah, rasa aman, dan masa kanak-kanak itu sendiri].

BACA JUGA...  Peringatan Dini BMKG, Bener Meriah Berpotensi Dilanda Hujan Lebat dan Angin Kencang

MBG DAN PEMULIHAN INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN

DI SISI LAIN, proses perbaikan gedung sekolah dan fasilitas belajar terus dilakukan oleh prajurit TNI AD. Renovasi sekolah-sekolah terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang merupakan bagian dari arahan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, untuk mengaktifkan kembali fungsi pendidikan pascabencana.

BACA JUGA...  Pasca Bencana, Ayah Wa Himbau Camat dan Geuchik Segera Data Kerusakan, Batas Waktu 17 Januari 2026

Meski pembangunan fisik masih berlangsung, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan. MBG menjadi penguat keberlanjutan pendidikan di tengah keterbatasan ruang dan sarana.