oleh

Lelah Yang Terbayar

Laporan | Syawaluddin

UNTUK berbuat sesuatu yang berarti bagi banyak orang, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bisa melalui jalur Politik, Lembaga atau Pemerintahan.

Pun begitu, tak sedikit sandungan yang diterima sipelaku dan dianggap hanya sebagai pencitraan, padahal perbuatan tersebut tulus dilakukan.

Karena fungsi dan tugas sebagai wakil rakyat diparlemen daerah pemilihannya (Dapil). Melihat secara langsung apa dan mengapa, siapa berbuat apa, untuk satu kemajuan signifikan pembangunan yang berkelanjutan.

Kiprahnya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, semakin berarti, selain julukan yang diberi masyarakat sebagai Srikandi Aceh Tamiang, adalah cemeti untuknya giat mengawasi dan membawa kegiatan pembangunan ditanah leluhurnya.

Bersama Gubernur Pemerintah Aceh, Nova Iriansyah, dia mengawal mega proyek bertajuk Multi Years Contract (MYC), mengupayakan terlaksananya pekerjaan proyek jalan tembus Kaloy (Kecamatan Tamiang Hulu – Lesten (Kecamatan Pining, Gayo Lues) bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang.

Seyogianya, jalan tembus Kaloy – Lesten dikerjakan pada Januari 2021 ini, dengan judul Karya Bhakti Kodam Iskandar Muda, senilai Rp34 miliar rupiah.

Tidak cukup disitu, Srikandi Aceh Tamiang itu juga giat, berkunjung kewilayah kampung-kampung terpencil dan terisolir. Ada beberapa kampung menjadi agenda utama bantuannya, jalan tembus antar kampung, antar kecamatan. Kampung (desa) Batang Ara-Kampung Blang Kandis Kecamatan Bandar Pusaka dan Baleng Karang Kecamatan Tamiang Hulu.

Siapa lagi, kalau bukan Nora Idah Nita, SE hari ini elektabilitas menanjak tajam secara politik, karena gerakan masuk kampung keluar kampungnya itu dihargai warga.

Nora satu tokoh muda yang diidolakan kaum Hawa dan Adam, karena kepiawaiannya memanajerial diri dan partainya mengambil simpatik masyarakat Aceh Tamiang.

Selain muda dan cantik, Nora Idah Nita didapuk sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai berlogo mercy (Demokrat) Kabupaten Aceh Tamiang.

Dia bersama kader lainnya punya andil besar dalam membangun tanah leluhur Bumi Muda Sedia—sebutan Kabupaten Aceh Tamiang.

Ada empat nama dari kader militan Partai Demokrat akan menggelinding sebagai calon kontestan Pilkada Aceh Tamiang periode 2022-2227; Hamdan Sati, Nora Idah Nita, Muhammad Nur dan Saiful Sofyan.

Gawean mereka tak main-main, tinggal menggodok, di Kabupaten, Provinsi dan Pusat. Keempatnya adalah kader militan calon pemimpin tamiang kedepan dari partainya Agus Harimurti Yudhoyono.

Saat ini Nora, anggota DPR Aceh dan duduk Dikomisi V yang membidangi, Kesehatan, Olahraga, Pemberdayaan Perempuan, Tenaga Kerja, Sosial, Narkoba, Rumah Sakit, Kependudukan dan Perlindungan Anak.

Dua periode secara berturut-turut sebagai anggota DPRK Aceh Tamiang, Nora dipercaya menduduki kursi Pimpinan DRPK, memuluskan dia maju di DPR Aceh, hasilnya dia terpilih mewakili Daerah Pemilihan 7.

Ada beberapa nama anggota DPR Aceh berasal dari Dapil 7 (Kota Langsa dan Aceh Tamiang), diantaranya Nora Idah Nita, Asrizal H Asnawi, Syamsuri, Muhammad Rizky, Irfansyah dan Nova Zahara.

Dulangan suara mereka bisa dipastikan terbanyak di Aceh Tamiang, muncul pertanyaan, kenapa mereka tidak berpikir untuk membangun tamiang juga?.

Dapil 7, bukan hanya Kota Langsa, tetapi juga Aceh Tamiang. Bahkan mayoritas suara mereka ada disana. Kok dianaktirikan ya Aceh Tamiang.

Dari beberapa anggota DPR Aceh, Dapil 7, yang gencar dan proaktif, terlihat hanya Nora dan Asrizal yang merasa mereka adalah wakil Tamiang.

Prihatin memang, pun begitu, air laut memang bersikulasi pasang surut. Ada yang pro dan kontra untuk membangun Dapilnya masing-masing.

Begitu juga apa yang dilakukan Nora hari ini ada yang pro dan kontra, terutama tetangga sebelah. Biasalah dalam politik, tak semua bisa berjalan sesuai yang diinginkan.

Sore suatu ketika, penulis sempat bercengkrama dengan Nora, terusan baju bermotif bunga, hitam, coklat dan kemerahan, terlihat serasi dibalut Jilbab warna hitam.

Nora elegant dengan penampilannya, mengawali cerita, dia berkata “Tak semua yang kita lakukan itu baik, menurut mereka. Meski kita sudah lakukan yang terbaik untuk mereka dan kemajuan Aceh Tamiang,” katanya.

Sebagai seorang politisi, dia percaya. Apa yang dilakukannya akan memperoleh nikmat secara bathiniah dan Ridha Allah.

Hanya segelintir saja yang mengatakan, yang dilakukan Nora, bentuk dari espektasi satu permainan politik. Pengakuannya, karena kampung dan tanah kelahirannya, Nora getol masuk kampung keluar kampung.

“Ya itulah politik, tidak semua yang kita lakukan baik dimata mereka, meskipun pelaksanaan itu didasari oleh bentuk kepedulian dan panggilan hati sebagai seorang pelitisi sejati yang berjiwa suci,”.

Begitupun, apakah Nora diam?, jawabnya tidak. Dia melaju terus dengan kemampuannya, penilaian itu, akan dijawab oleh waktu, benar atau tidaknya yang dilakukannya.

Keluar masuk kampung, berjibaku dengan kubangan lumpur, hal lumrah bagi Nora, dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk kemajuan.

Dari menarik truck dangan tali, bersama warga, sampai malam buta, Nora masih bermesra dengan kubangan lumpur dan terlihat ceria dengan sumringahnya.

Perjuangan untuk membebaskan masyarakat dijalan berkubang lumpur terus dilakukan dan disuarakan di DPR Aceh. Sampai pada Gubernur Nova, agar Tamiang bebas dari kubangan.

Tidak hanya fisik, Nora juga banyak membantu kaum ibu, dipola pemberdayaan kaum perempuan untuk menambah pendapatan ekonomi keluar.

Ada beberapa program, diantaranya home industri, kraft dan bordiran menjadi perhatian khusus dalam meningkat income perkapita masyarakat.

“Kita coba, bangkitkan ekonomi kaum ibu, agar mereka bisa mandiri mencari tambahan keuangan keluarga. Ibu-ibu sebagai playmaker-nya, kita yang mendorong,” katanya.

Nora merasa tak puas dengan gaweannya, sebab dirasa belum mencapai kearah yang signifikan dan masiv. “Saya harus mampu bebaskan masyarakat dari keterpurukan ekonomi. Kalau hal-hal seperti juga dianggap pencitraan, itu urusan mereka-merekalah, saya tetap berbuat yang terbaik bagi mereka,”.

Semoga ada srikandi-srikandi lainnya di Aceh Tamiang yang berjiwa membangun untuk kemajuan, menuju Aceh Tamiang yang bermartabat dan mampu berdampingan dengan daerah lain. Insha Allah. (*)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA..