JAKARTA | MA — Program Koperasi Merah Putih (KMP) yang diluncurkan secara masif oleh Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus menuai sorotan. Meski diproyeksikan sebagai pilar ekonomi pedesaan untuk mendukung swasembada pangan dan penyaluran bahan pokok, model pengembangan koperasi ini dinilai memiliki risiko besar terhadap kemandirian ekonomi masyarakat.
Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menyebut fenomena Koperasi Merah Putih merupakan manifestasi nyata dari etatisme ekonomi yang justru berpotensi mematikan inisiatif murni warga di tingkat akar rumput.
”Dalam ilmu ekonomi-politik, etatisme terjadi ketika negara mengambil alih peran dominan dalam mengorganisir faktor produksi. Negara hadir seolah sebagai ‘Ratu Adil’, namun nyatanya menciptakan ketergantungan abadi,” ujar Denny Charter dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/1/2026).
Dinilai Mengingkari Spirit Mohammad Hatta
Denny menegaskan bahwa koperasi seharusnya lahir sebagai instrumen perlawanan rakyat kecil (proletar) terhadap hegemoni pemodal besar melalui prinsip swadaya dan demokrasi arus bawah (bottom-up). Ia melihat kehadiran KMP justru menjadi antithesis dari nilai-nilai yang diletakkan oleh Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta.





